diposkan pada : 03-02-2019 13:10:03


Mencari Hari Baik Menurut Islam?? Bag.1


Souvenir pernikahan murah - Jika anda resah mententukan hari pernikahan secara Islami maka ada baiknya anda membaca artikel pernikahan berikut ini yang di kutip dari banyak sekali sumber, silahkan pahami lagi mengenai pemilihan hari baik pernikahan berdasarkan Islam dengan membaca artikel di bawah ini :

Pernikahan ialah satu ikatan yang membukakan banyak tabir keharamaan di antara dua insan, dan merubahnya menjadi ladang ibadah yang penuh barakah,  halal dan syar’i. Bersentuhan antara dua insan nonmuhrim yang pada awalnya haram, sehabis melewati ritual pernikahan menjadi halal. Jika sebelum terikat pernikahan, memandang atau saling memandang ialah perbuatan yang diharamkan, maka sehabis melewati prosesi pernikahan akan menjadi ibadah yang dibutuhkan dan sangat dianjurkan. Pernikahan ialah pembuka gerbang kehalalan bagi dua insan. Maka, jagalah pernikahan dengan segala kesuciannya, jangan nodai pernikahan dengan perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah swt.

Syirik merupakan salah satu dosa terbesar yang tidak sanggup diampuni oleh Allah swt, kecuali dengan sebenar-benarnya taubat kepada Allah swt. Namun, banyak sekali perbuatan-perbuatan syirik yang dilakukan seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya. Ada yang sudah tahu namun menutup telinga, dan ada juga yang terjerumus tanpa sepengetahuannya.

Salah satu tradisi bernilai syirik yang masih terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat muslim ketika ini ialah “mencari atau menanyakan hari baik” kepada orang tertentu (yang diyakini mengerti atau sanggup meramal) untuk melangsungkan pernikahan. Perlu diketahui, bahwa menanyakan hari baik untuk melangsungkan pernikahan merupakan salah satu bentuk syirik kepada Allah swt.

Datang kepada orang tua, yang dituakan, tokoh masyarakat, atau kyai untuk bertanya dan mencari hari baik merupakan salah satu perbuatan syirik, sebab mengandung unsur meramal. Ini sama artinya dengan mendatangi atau meminta bantuankepada TUKANG RAMAL atau DUKUN. Biasanya, hari dan tanggal lahir kedua calon pengantin dihitung-hitung atau diterawang lebih dahulu, dilihat dari primbon dan sebagainya. Kemudian hasil terawangan menyatakan bahwa pernikahan harus dilaksanakan pada hari dan tanggal sekian, jikalau pernikahan dilaksanakan pada hari-hari yang lain akan mendatangkan musibah, contohnya janjkematian salah satu pengantin, rezeki keluarganya akan sempit, keluarga sakit-sakitan, rumah tangganya akan berantakan, dan sebagainya. Hal ini tentu saja sudah mengarah kepada syirik.

Percaya dan menjalankan perbuatan ini sama artinya dengan menyampaikan bahwa dukun atau tukang ramal itu ialah lebih baik, lebih mengerti, lebih kuasa, dan lebih andal dari Allah swt. Dengan mempercayai dan menjalankan perbuatan tersebut, sama saja kita telah menyampaikan bahwa perhitungan dan ucapan tukang ramal, dukun, dan primbon itu ialah lebih baik dari pada Al Quran.

Dalam hal ini, orang bau tanah kawasan bertanya perihal hari baik itu sudah dikategorikan sebagai seorang DUKUN

Mengenai siapakah yang sanggup disebut sebagai dukun, Ibnul Atsir t mengatakan: “Dukun ialah seseorang yang selalu memperlihatkan informasi perihal perkara-perkara yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun ibarat syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu ialah para pemilik jin yang akan memberikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun ialah orang yang mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan digunakan untuk menghukumi kejadian-kejadian ibarat melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan kawasan barang yang hilang dan sebagainya.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits, 4/214)

Sedangkan Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan: “Dukun ialah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk belakang layar batin. Mayoritas dukun ialah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan pinjaman jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka ialah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/393-394)
jual undangan pernikahan murah di bekasi
Tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang sanggup melihat hal-hal yang ghaib (masa depan ialah salah satu kasus yang ghaib). Bahkan Rasulullah saw, insan termulia, kekasih Allah swt yang Maha Mengetahui yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi saja tidak pernah meramal atau meminta diramalkan mengenai  masa depannya, kemudian bagaimana mungkin insan yang penuh dengan dosa ibarat kita ini sanggup melakukannya? (“Katakanlah : Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku (pula) menolak kemudlaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya saya mengetahui yang ghaib, tentulah saya membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan saya tidak akan ditimpa kemudlaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa informasi gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al A’raaf : 188).)


Dan satu hal yang perlu kita yakini adalah, seberapapun besar perjuangan seseorang (dukun atau tukang ramal) untuk memperlihatkan hari baik kepada seseorang, jikalau memang Allah swt hendak memperlihatkan petaka kepadanya, maka tidak akan ada yang bisa untuk menghindar ataupun selamat darinya.


”Dimana kau berada janjkematian akan mengejarmu kendatipun kau berada dalam benteng yang kokoh ”. (An-Nissa : 78)

Di ayat lain, Allah juga berfirman: ”Katakanlah sesungguhnya janjkematian yang kau lari dari padanya akan menemui kau kemudian kau akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang mistik dan yang kasatmata kemudian diberikan kepadamu apa yang telah kau kerjakan ”. (QS. Al Jumua’ah : 8)

Untuk lebih meyakinkan mengenai haramnya perdukunan atau peramalan, berikut kami berikan beberapa dalil yang terkait:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui kasus ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An Naml : 65)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang berair atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang kasatmata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al An’am : 59)

“Jika Allah memintakan sesuatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang sanggup menghilangkannya melainkan Dia. Dan jikalau Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekalian hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al An’am : 17-18)

“Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w , dia bersabda:’Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” (HR. Abu Daud).

“Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan disahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi saw dengan lafaz: ‘Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw .”

“Dari Imran bin Hushain ra.,dia berkata: ‘Rasulullah s.aw bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melaksanakan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan gejala benda,burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw .” (HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya perihal sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (HR. Muslim dan Ahmad, dari sebagian isteri Nabi [Hafshah])

“Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi perempuan yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

“Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan jual beli anjing, mahar kedurhakaan (makhar perzinahan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud)

“Kunci kasus ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala : ‘Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun mengetahui apa yang didalam kandungan selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari selesai zaman kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui dibumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan tidak seorangpun mengetahui kapan hujan akan turun kecuali Allah Ta’ala”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

Dari dalil-dalil di atas, terperinci sekali bahwa Allah swt melarang kita untuk mendatangi dukun atau tukang ramal. Dengan mendatangi dan mempercayai mereka, berarti kita telah mengakui adanya kekuatan yang sanggup menembus kasus ghaib selain Allah swt. Maka kita telah melaksanakan perbuatan syirik kepada Allah swt. Dan pada salah satu hadits di atas, Rasulullah saw juga telah menyampaikan dengan terperinci bahwa dengan mendatangi dan mempercayai dukun atau tukang ramal berarti kita telah kufur kepada Allah swt.

Sungguh, asing sekali orang-orang yang mengaku dirinya Islam dan hendak melangsungkan pernikahan dalam syariat Islam, tapi masih menyandarkan masa depan  pernikahannya pada seorang dukun atau tukang ramal. Apakah mereka berpikir bahwa dukun atau tukang ramal tersebut mempunyai kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari Allah swt? Apakah mereka berpikir bahwa dukun atau tukang ramal yang telah bersekutu dengan jin tersebut sanggup menghindarkan mereka dari malapetaka yang akan menimpanya? Na’udzubillah! Tidak akan ada yang akan selamat dan menyelamatkan manakala Allah swt telah menentukan satu petaka kepada seorang atau sekelompok hamba. Dan tidak akan ada pula yang akan terluka atau menderita sedikitpun, manakala Allah swt telah memutuskan untuk memperlihatkan pertolongan-Nya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu ialah gampang bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kau jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kau jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”(QS. Al hadiid : 22 – 23).

Merujuk pada ayat di atas, jelaslah bahwa segala sesuatu peristiwa yang terjadi itu merupakan suatu ketetapan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Bukan dukun atau tukang ramal yang menyebabkannya, dan bukan mereka pula yang akan menghilangkannya. Maka tidak ada satu pernikahan yang mengalami kegagalan sebab tidak mendatangi dukun atau tukang ramal guna menanyakan hari baik. Tidak akan ada petaka dalam suatu pernikahan, kecuali itu sudah tertulis di Lauh Mahfuzd, menjadi belakang layar Allah swt, dan tidak akan ada yang bisa untuk mengetahui ataupun menghindarinya.

Pernikahan ialah gerbang pembuka halalnya satu ikatan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan. Pernikahan akan merubah banyak sekali banyak kasus yang haram menjadi halal. Pernikahan merupakan media yang akan membuang banyak nilai-nilai dosa dan maksiat menjadi nilai ibadah dan pahala.

Saling memandang dan saling menyentuh antar pasangan yang telah dihalalkan melalui ikatan pernikahan merupakan satu bentuk ibadah dan tentunya segala bentuk ibadah ialah berpahala. Sedangkan saling memandang dan saling menyentuh antar lawan jenis tanpa ikatan pernikahan atau ikatan kemuhriman merupakan salah satu bentuk maksiat, dan tentu saja segala bentuk maksiat akan menjadikan dosa.

Subhanallah! Betapa indah dan mulianya nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah pernikahan. Bahkan yang pada awalnya haram pun akan menjelma halal dan akan dihitung sebagai suatu ibadah.

Saudaraku, mari sama-sama kita jaga nilai-nilai kemuliaan pernikahan dan kepercayaan islam kita dengan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan syirik dan menyekutukan Allah swt. Serahkan semuanya kepada Allah swt. Menikahlah dengan niat untuk beribadah kepada Allah swt, dan laksanakanlah pernikahan tersebut dengan cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah swt di dalam syariat Islam. Memohon dan memintalah pertolongan hanya kepada Allah swt untuk mendapat pernikahan yang selamat, yang penuh dengan barakah, sakinah, mawaddah, warrohmah. Karena Allah swt yang Mengatur dan Memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, serta yang ada diantara keduanya.

“Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta tperolongan.” (QS. Al-Fatihah:5)

Wallahua’lam

http://syahnaaksesoris.com/



Mencari hari baik berdasarkan Islam?? Bagian.2 ( Selesai )

Mencari sesuatu yang lebih baik atau yang terbaik bukanlah satu hal yang dihentikan  di dalam anutan agama Islam. Justru Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menjadi yang terbaik dan memperlihatkan hasil yang terbaik. Namun, memberi atau mencari sesuatu yang lebih baik atau yang terbaik tentunya tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat Islam, terlebih lagi dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam.

Menikah merupakan salah satu fenomena yang senantiasa dibutuhkan oleh setiap insan yang bakir dan berjiwa sehat. Menikah merupakan salah satu di antara dua jalan terbaik yang diajarkan di dalam Islam untuk menanggulangi ancaman hawa nafsu, yaitu nafsu biologis atau nafsu syahwat. Jalan lainnya yang diajarkan di dalam anutan Islam ialah dengan melaksanakan puasa (shaum). Tidak ada jalan lain yang lebih baik dalam pandangan Islam untuk melindungi diri dari fitnah nafsu syahwat.

Nafsu syahwat merupakan salah satu musuh insan yang paling berat. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan kepada umatnya yang telah mempunyai kemampuan untuk menikah biar segera menikah, tidak menunda-nundanya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah bisa untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih sanggup menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, sebab sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah bisa menikah hendaklah ia nikah, sebab mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan higienis lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, menggunakan wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

“Kawinlah dengan perempuan yang mencintaimu dan yang bisa beranak. Sesungguhnya saya akan membanggakan kau sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya saya gembira dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

Demikian vitalnya hikmah, manfaat dan maslahat yang sanggup diperoleh dari nikah, sampai Rasulullah saw pun mencela orang-orang yang tidak mau menikah (membujang tanpa adanya alasan yang syar’i). Melalui beberapa sabdanya, Rasulullah saw mengatakan:

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Seburuk-buruk kalian, ialah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayit kalian, ialah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

“Diantara kau semua yang paling jelek ialah yang hidup membujang, dan janjkematian kau semua yang paling hina ialah janjkematian orang yang menentukan hidup membujang” (HR. Abu Yahya dan Thabrani)

Islam ialah agama yang mudah, yang memperlihatkan fasilitas kepada seluruh umatnya. Sehingga ketika ada peraturan yang diberikan oleh Allah swt melalui anutan Islam, maka peraturan itu tidak akan bersifat memberatkan, terlebih lagi jikalau aturan atau perintah yang diberikan tersebut mempunyai peranan dan manfaat yang sangat penting bagi umat-Nya. Ketika Allah swt memutuskan bahwa nikah ialah salah satu dari dua jalan keluar yang diajarkan di dalam Islam untuk melawan serangan hawa nafsu maka Allah swt pun telah turut memperlihatkan fasilitas kepada umat-Nya untuk menikah.

Salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam sebuah ijab kabul oleh seorang pria sebagai penghalal hubungan suami istri ialah harus memperlihatkan mahar kepada calon istri. Tanpa adanya mahar, maka keduanya belum halal atau pernikahannya belum dikatakan sah. Maka dalam hal ini Allah swt melalui anutan Islam memperlihatkan fasilitas kepada pihak pria berupa kemurahan nilai mahar. Islam mengajarkan kepada umat muslimah untuk tidak meninggikan atau mensyaratkan mahar yang bernilai tinggi, yang akan berakibat menyulitkan pihak pria atau pernikahan itu sendiri. Berikut sabda Rasulullah saw mengenai perintah untuk merendahkan nilai mahar kepada wanita.

“Wanita yang paling agung barakahnya, ialah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

Dalam hal ini, Allah swt juga telah berfirman, yang artinya:

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada perempuan (yang kau nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

Merujuk pada urgensi nikah yang telah dipaparkan di atas, maka memang tidak ada salahnya jikalau akibatnya banyak orang selalu mengawali pelaksanaan ijab kabul mereka dengan kesibukan mencari hari baik.

Tidak ada salahnya untuk mecari haik, namun intinya Islam tidak mengajarkan hal ini. Karena dalam kacamata Islam, seluruh hari ialah baik, tidak ada hari yang buruk, terlebih lagi hari yang sanggup memperlihatkan keburukan atau malapetaka. Tidak ada dalil yang secara terperinci dan detail di dalam anutan Islam baik dalam bentuk firman Allah swt maupun hadits Rasulullah saw. Islam juga tidak mengajarkan kepada umatnya untuk mencari hari baik dalam melangsungkan ijab kabul atau pernikahan.

Kenapa pada artikel sebelumnya (Pernikahan: Mencari Hari Baik), penulis lebih memfokuskan permasalahan pada praktek perdukunan atau peramalan?

Karena, praktek itulah yang ketika ini banyak sekali dan masih berkembang di dalam kehidupan umat muslim. Sekali lagi penulis menyampaikan bahwa tidak ada salahnya untuk seseorang mencari yang terbaik atau lebih baik. Namun, ketika cara yang dilakukan itu mengarah pada kontradiksi terhadap syariat Islam, maka tentu saja hukumnya ialah haram. Dan itulah yang ketika ini banyak terjadi di dalam kehidupan umat Islam. Mereka harus mendatangi orangtua atau orang pandai untuk mencari hari baik, untuk pelaksanaan kesepakatan nikah. Orang pandai atau orang bau tanah itulah yang secara tidak langsung, mau atau tidak mau dalam kacamata Islam akan mendapat sebutan sebagai dukun atau paranormal (yang tentu saja diharamkan).

tanggal lahirSeseorang yang disebut sebagai orang bau tanah atau orang pandai tadi akan menghitung-hitung atau meramalkan hari baik untuk calon pengantin yang biasanya melalui tanggal lahir kedua calon kedua pengantin. Kemudian, si orang bau tanah atau orang pandai akan menyampaikan “Pernikahannya harus dilaksanakan pada hari ini atau ini, bulan ini atau bulan ini”. Jika dilaksanakan pada hari atau bulan selain yang telah ditunjukkan oleh orang pandai atau orang bau tanah itu maka akan terjadi petaka pada kedua pengantin atau kepada keluarga pengantin, berupa kematian, rezekinya seret, dan lain-lain. Tentu saja hal ini sangat terperinci menggambarkan bentuk kesyirikan.

Lepas dari pembahasan mencari hari baik sebagai bentuk perdukunan (karena telah dibahas pada artikel yang kemudian “Pernikahan: Mencari Hari Baik”), di sini penulis akan sedikit memperlihatkan citra bagaimana menentukan hari yang baik, yang tentunya tidak bertentangan dengan syariat Islam, terlebih lagi mengarah kepada perdukunan atau kemusyrikan.

Sebelumnya, penulis kembali menyampaikan bahwa sebetulnya tidak ada dalil yang secara terperinci dan detail yang mengatur mengenai hari yang sempurna atau hari baik untuk melaksanakan kesepakatan nikah. Dengan demikian, tidak ada pula anutan untuk mencari hari baik di dalam Islam. Karena, intinya semua hari itu ialah baik, semuanya telah diciptakan oleh Allah swt. Namun, sebagai umat Islam kita mempunyai seorang suri tauladan terbaik yang bisa dijadikan panutan dalam menjalani seluruh aspek kehidupan. Kita mempunyai Rasulullah Muhammad saw yang merupakan suri tauladan yang terbaik, Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi umat muslim itu sendiri.

Memang benar bahwa Rasulullah saw juga tidak pernah mengeluarkan sabda yang mengajarkan atau memerintahkan umatnya untuk menentukan hari tertentu untuk melaksanakan kesepakatan nikah. Namun sebagai suri tauladan yang terbaik, hanya dialah yang patut kita jadikan panutan. Demikian pula mengenai problem hari baik untuk ijab kabul ini, sudah sepatutnyalah kita mengikuti jejak dia Rasulullah saw. Karena sesuai perintah Allah swt di dalam Al Alquran yang memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah saw, yang merupakan salah satu tanda cinta kepada Allah swt. Allah swt berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kau (benar-benar) menyayangi Allah, ikutilah aku, pasti Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imraan: 31)

Demikianlah Allah swt memerintahkan umatnya untuk senantiasa mengikuti Rasulullah saw. Berdasarkan firman Allah swt tersebut di atas, maka sudah sepatutnyalah kita mengikuti dia juga dalam menentukan hari atau waktu untuk kesepakatan  nikah.

Dalam hal ini sederhana saja, bahwa Rasulllah saw telah menikahi beberapa dari istri dia pada bulan yang sama, yaitu jatuh pada bulan Syawal. Dan jikalau kita menginginkan hari yang baik maka ikutilah jejak beliau, yaitu menikah pada bulan Syawal. Meskipun kita tidak tahu dengan pasti apa pesan tersirat menikah di bulan Syawal yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw, namun Insya Allah itulah jalan terbaik yang diridhai oleh Allah swt. Dan dengan mengikuti jejak Rasulullah  saw ini, yang pasti akan menghindarkan kita dari kasus musyrik.

Anehnya, banyak dari umat muslim itu sendiri yang menganggap bulan Syawal sebagai salah satu bulan yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Padahal, Rasulullah saw sendiri pun telah menikah pada bulan Syawal beberapa kali (dengan beberapa istri dia yang salah satunya ialah Aisyah binti Abu Bakar RA).

Anggapan atau mitos tersebut sampai sekarang masih terus berkembang di dalam kehidupan umat muslim. Mereka terus melanggengkan anggapan yang tidak ada dalilnya sama sekali di dalam anutan Islam. Di sini tentu saja mereka telah terjatuh pada kasus yang telah disebutkan di dalam  Al Alquran sebagai berikut:

“Mereka menjawab: ‘(Bukan sebab itu) sebetulnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’” (QS. Asy Syu’araa: 74)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?’” (QS. Al Baqarah: 170)

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al Maidah: 104)

Na’udzubillah! Semoga kita sanggup terhindar dari kasus tersebut.

Di sini penulis mengakhiri dengan “wa tawaa shaubilhaq wa tawa shaubishshabri”. Marilah ilmu yang sekelumit ini kita aplikasikan mulai dari diri  dan keluarga kita. Mari kita tuntun kelaurga kita menuju Islam yang seutuhnya.

Demikian. Wallahua’lam.

Sekarang sudah sedikit lebih tahu kenapa artikelnikah.com memperlihatkan tanda tanya dua kali untuk pemilihan hari baik berdasarkan Islam.

Penulis : nurdiyon

Artikel lainnya »